Gemuruh lalu bencana tiba…

Suara menggelegar yang memekakkan telinga muncul dari Bumi yang berguncang saat bangunan-bangunan runtuh. Suara teriakan bercampur aduk dengan suara kaca-kaca pecah. Lalu, Bumi terdiam, sunyi sejenak, dan bau debu memenuhi udara. Orang-orang berlari tunggang-langgang menyelamatkan diri.

Warga Cile berlarian keluar rumah mereka, mencoba menyelamatkan diri dari gempa bumi berkekuatan hingga 8,8 skala Richter yang mengguncang negara itu, Sabtu (27/2/2010) pukul 03.34 waktu setempat. Pusat gempa berada 115 kilometer timur laut kota Concepcion dan 325 kilometer barat daya Santiago, ibu kota Cile, dengan kedalaman 35 kilometer.

Ini merupakan gempa terdahsyat yang mengguncang Cile dalam 50 tahun terakhir. Hingga kemarin, setidaknya 300 orang tewas. Sekitar 2 juta orang terpengaruh dampak gempa. Sedikitnya 500.000 rumah rusak berat.

Saat gempa mengguncang, kebanyakan warga Cile masih tidur lelap. Banyak pula warga yang tengah berada di kelab malam untuk berpesta pada akhir pekan. Sedikitnya 13 orang tewas di Santiago.

”Sungguh menakutkan! Langit-langit mulai berjatuhan. Teman-teman yang masih di kelab malam mengatakan, semua kacau balau,” ujar Maren Andrea Jimenez, warga Santiago.

”Ini adalah pengalaman terburuk dalam hidup saya,” kata Sebastian (22), berdiri di depan rumahnya di timur Santiago.

Di sisi lain kota, seorang pria tampak tersedu-sedu mengguncang lengan seorang perempuan yang sudah tergeletak tak bernyawa di sebuah kafe yang roboh. Sejumlah tulang pria itu pun patah. Dua korban tewas lainnya tergeletak tak jauh dari keduanya.

Di Santiago, Fine Arts Museum rusak parah. Lahan parkir dua lantai di sebuah apartemen jatuh, menggencet setidaknya 50 mobil, membuat alarm mobil berdering tak henti-hentinya.

Stasiun televisi milik pemerintah melaporkan, sebanyak 209 narapidana melarikan diri dari penjara di kota Chillan, dekat episentrum gempa, setelah terjadi kebakaran. Baru 60 orang di antaranya yang berhasil ditangkap kembali.

Api unggun

Saat malam turun, Sabtu, sejumlah orang dan anak-anak duduk mengelilingi api unggun di depan reruntuhan rumah mereka di kota Curico, 196 kilometer selatan Santiago.

”Kami sedang tidur saat gempa mengguncang dengan sangat kuat. Saya bangun dan keluar. Saat saya menengok ke belakang, tempat tidur saya tertutup reruntuhan,” ujar Claudio Palma, korban selamat.

Fabien Miners, yang bertanggung jawab menghitung kerusakan di Curico dan sekitarnya, mengatakan, sejauh ini dia sudah menemukan 90 orang tewas, terutama orang-orang berusia di atas 50 tahun yang tidak bisa keluar rumah tepat pada waktunya saat rumah mereka diguncang gempa.

Korban selamat lainnya, Erika Vasquez, menuturkan, dia dan 14 saudaranya berlindung di bawah tiga tenda terpal kecil di taman di depan rumah mereka yang ambruk.

”Mereka menyuruh kami pergi ke tempa lain, tetapi semua barang kami ada di sini,” katanya, sambil menunjuk reruntuhan rumah yang telah dihuni keluarganya selama 44 tahun.

Turbulensi

Di Talca, 105 kilometer dari episentrum, korban selamat menuturkan, mereka seperti tengah terbang di dalam turbulensi saat harta benda mereka berjatuhan akibat gempa. Di kota Conception, dekat episentrum gempa, gedung-gedung bertingkat rusak parah. ”Saya berada di lantai delapan dan tiba-tiba saya sudah di bawah sini,” tutur Fernando Abarzua, masih tercengang dia bisa lolos tanpa luka yang berarti.

Abarzua menuturkan, salah seorang kerabatnya masih terperangkap di bawah reruntuhan hingga enam jam pascagempa. ”Dia terus berteriak, mengatakan kalau dia baik-baik saja,” ujarnya.

Ratusan orang di Concepcion, yang berpenduduk 670.000 jiwa, menghabiskan malam di tenda-tenda dan tempat perlindungan sementara. Rumah-rumah tua terbuat dari batu bata mengalami kerusakan parah. Kota diselimuti kegelapan. Satu-satunya cahaya berasal dari api unggun dan sesekali lampu mobil polisi.

Mauri Arancibia, salah satu warga Concepcion, mengatakan, dia lega bibinya bisa keluar dengan selamat setelah tertimbun reruntuhan rumahnya. Akan tetapi, dia sangat terguncang dengan kerusakan yang terjadi di kotanya.

”Saya sangat khawatir. Saya tak tahu harus berbuat apa,” tuturnya. (AP/AFP/Reuters/FRO)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: