3 Perusak Agama

Tiga Perusak Agama

Oleh : Abu Nazwa
“Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga perkara yang dapat merusak agama yaitu ulama yang jahat, penguasa yang zalim dan ahli hukum yang curang”

(HR. Bukhari).


  • Ulama yang Jahat

Ulama dalam masyarakat diidentikkan dengan mubaligh, dai, ustadz, kyai, buya, labay dan tuanku. Mereka adalah sosok yang sangat urgen, katanya dihargai, imbauannya disahuti dan anjurannya sangat ditaati, sehingga apapun proble­matika yang dihadapi masyarakat seperti kegelisahan jiwa, khilafiyah mazhab/ra’yu, studi dan pemahaman agama dapat ditanyakan langsung kepada para ulama untuk dicarikan solusi, agar dapat men­jalankan agama dan aktivitas kehidupan dengan efektif.

Dari hadits di atas dapat kita pahami bahwa pada suatu saat akan muncul ulama-ulama yang suk (jahat), katanya tidak sesuai dengan perbuatannya; prinsip atau kepribadiannya dapat berubah dengan tawaran uang dan pangkat yang rendah, sebagaimana sabda Nabi “Ulama di saat itu adalah ulama terjahat di bawah kolong langit, darinya keluar fitnah dan kepadanya kembali akibatnya”.

Bahkan di media cetak dan elektronik kita pernah mendengar, membaca dan melihat bahwa seorang ustadz atau buya yang selama ini jadi panutan umat dan berdakwah di mana-mana digiring aparat keama­nan ke penjara karena di vonis korupsi dan yang lebih tragis lagi adalah seorang ustadz/kyai memperkosa anak didiknya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Bukankah seorang ustadz identik dengan sosok alim yang selama ini mengajar, mengingatkan dan menyadarkan umat? Kenapa sosok seorang mubaligh/ustadz bisa dikalahkan oleh keinginan nafsu dari pada panggilan hati yang paling dalam? Tidakkah mereka sadar bahwasanya Allah SWT sangat membenci orang yang berkata tapi tidak merealisasikan ucapannya?

Dalam masyarakat sering terjadi kekeliruan dalam mendefinisikan ulama. Selama ini berkembang asumsi bahwa ulama itu sama dengan ustadz, mubaligh, kyai, buya, tuanku dan labai. Padahal, kriteria/kategori seorang ulama adalah ­orang yang dapat menguasai beberapa disiplin ilmu seperti ‘ulumul Quran, ‘ulumul hadits, Adabullughah (bahasa Arab)dan hifzhul-Qur’an, sehingga dia dapat mengeluarkan ijtihad dengan masdar Al-Qur’an dan Sunnah. Jadi orang yang hanya bisa berpidato/ceramah dengan retorika yang bagus belum bisa dikatakan ulama sebelum mereka memenuhi kriteria tersebut.

  • Penguasa yang Zalim

Pemerintah dalam sebuah negara punya peranan yang sangat penting dalam upaya mewujudkan kemajuan dan kemakmuran negaranya. Sehingga apapun problema yang dihadapi masya­rakat seperti ketidakadilan, kezaliman dan pelanggaran hukum dapat di laporkan langsung kepada pihak berwenang, sehingga masyarakat dapat hidup aman dan tenteram berada di bawah pemerin­tahan yang adil dan bijaksana.

Tetapi pada suatu saat akan muncul ketidakadilan, pelanggaran hukum, dan kezaliman itu dari pihak penguasa itu sendiri, sesuai dengan sabda Nabi SAW, “Waimaamu Jaair (Imam atau penguasa yang zalim)”. Defenisi zalim menurut Nabi adalah “apabila mencuri orang-orang besarnya (pejabat, konglomerat) mereka diam saja, tetapi bila mencuri orang-orang lemah (masyarakat biasa) mereka jatuhi hukuman. Apakah itu yang dikatakan adil?

Kita bisa lihat realita yang ada dalam masyarakat, sosok penguasa yang selama ini dianggap bijaksana bahkan di kasih beraneka ragam gelar penghormatan, yang jelas-jelas melakukan tidak pidana tidak dijatuhi hukuman bahkan bisa berkeliaran di tanah air ini. Sedangkan mereka masyarakat bawah yang hanya mencuri seekor ayam, bisa dijatuhi hukuman beberapa tahun. Kapankah ke­adilan di negeri ini akan bisa terwujud bila pihak penguasa masih masa bodoh dengan aturan-aturan yang berlaku.

  • Ahli Hukum yang Curang

Ahli hukum (hakim, jaksa) di masya­rakat punya peran yang sangat penting dalam penyelesaian kasus pidana yang terjadi dalam masyarakat seperti men­jatuhkan hukuman yang setimpal dengan pelanggaran yang dilakukan; yang salah dikatakan salah dan yang benar dikatakan benar. Sehingga dengan adanya keadilan dan keputusan hukum yang bijaksana tersebut membuat masyarakat aman dan tenteram.

Tetapi pada suatu saat akan muncul ketidakadilan dari pihak ahli hukum itu sendiri, hingga yang salah dikatakan benar, sedangkan yang benar divonis salah. Sehingga orang yang seharusnya mendapat keadilan dan keamanan malah dizalimi. Sesuai kata nabi “Wamujtahid Jaahil” (ahli hukum yang curang).

Dalam masyarakat kita sering lihat orang yang berhak penuh kepemilikan tanah akhirnya terpaksa menyerahkan tanah­nya kepada orang lain yang tidak jelas asal-usulnya, akibat kecurangan dan ketidakadilan yang terjadi di pengadilan artinya banyak pengadilan tetapi sulit untuk mencari keadilan. Belum lagi kita saksikan di televisi, masyarakat yang turun temurun tinggal di rumah leluhurnya harus keluar paksa karena kalah di pengadilan akibat tidak punya uang untuk menyewa pengacara. Sampai kapankah negeri ini menjadikan uang di atas segala-galanya? Wallahu a’lam bis-shawab (Majalah Tabligh)

from here

Satu Tanggapan

  1. bener banget tu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: